Search

A Midsummer Night's Dream

Tersenyum

Ketika kau bicara, aku tersenyum

Ketika kau membisu, aku tersenyum

Ketika kau bingung, aku tersenyum

Ketika kau tersenyum, aku pun begitu.

5 September 2017 — Room

Advertisements

Tentang Kebahagiaan

Ini bukanlah sebuah sajak

Ini hanyalah tentang penulis, yang membuat pembaca tersenyum melalui tulisannya

Tentang pemusik, yang menenangkan hati dengan alunan melodinya

Tentang pekerja seni, yang memukau nurani lewat karyanya

Tentang juru masak, yang masakannya slalu menggugah selera

Tentang juru foto, yang dapat mengabadikan momen tuk dikenang

Tentang kamu, yang kerap membahagiakanku.

 

May 30th 2017  Chamber of Secret

December 24th

The wind blows into you as you open the window. The town looks so bright with colorful lights and decorations in every corner. People are having fun with snow, nobody frowned, nobody pouted, … except you.

You want to go out too.

You want to have fun with snow too.

You want to spend the night with your family and friends too.

But then you realized you can’t.

Because you don’t have anyone.

You close the window and sip your hot chocolate, sighed. Then you stare at the window, talking to yourself. If only you’re here …, a person’s smile appears in your mind.

God, why are you being unfair to me?

Why can’t you treat me the same as other people?

Why can’t I spend this christmas with people I love?

A teardrop starts falling along with the snow. “Ah … no, no, no!” you shake your head. Persuading yourself to not cry during the christmas eve.

***

It’s 6 o’clock in the morning and you woke up thanks to your alarm. You walk yourself to the bathroom. Wash you face, brush your teeth. Still with your pajama on, you open the door and walk to the kitchen.

“SURPRISE!” shouts everyone. You widened your eyes. Your mom, dad, family, and friends are there wearing christmas themed clothes. They all brought a present for you. You haven’t even move a bit, still shocked.

“H-how?” a word finally came out from your mouth. They didn’t say anything, just smile.

You spend the whole day with them. Opening the presents, eat, and play games together. You feel like God listened to your complaints last night. And you feel blessed for it. Until the sunset …

They are starting to disappear one by one. Your mom, your dad, your family, your friends,

… your loved ones.

A part of you seems to disappear. And without being obstructed, your tears starts falling, again.

 

December 17th 2014 – My Room

Aku Seorang Perasa

Aku dilanda rasa cemas yang menyelimutiku,
rasa takut yang merasukku,
rasa gugup yang mencengkeramku,
dan rasa rindu yang mendebarkanku.

July 28th 2016 – SMAN 36 Jakarta

Rough

​I was scared
It was as if I made a mistake
The 7th sense told me
It’s not a good idea

I’m used with how time flies
But not this time
Flying around my head
Flapping, soaring

Doesn’t feel good, at all.

July 2nd 2016 – The Bunk Bed

Dentuman Malam

Ketika bunyi detak jantungku mengalahkan jam yang berdentang
Mengalahkan klakson-klakson membara di tengah kepadatan
Mengalahkan desas-desus di tengah keramaian
Ketika itu, aku sadar
Ada yang berbeda dari diriku.

June 6th 2016 – Masjid

Perang dalam Diri

3 hari—
3 hari sudah aku terkurung dalam penjara tak berjeruji
3 hari sudah aku mengerutkan kening
Meragukan keputusan hakim yang enigma

“Salahkan saja hakim yang alih-alih selalu adil”
Serunya ketika aku hanya bisa menghela napas
Menyandarkan tengkukku
Yang kemudian tertusuk dinginnya tembok

Partikel-partikel dingin itu kelak menguasai tubuhku
Timbul pertanyaan, “Mengapa tidak kuberontak saja?”
Paling tidak secara diam-diam
Toh, para pahlawan juga menghabiskan waktunya di balik jeruji untuk hal yang baik

Continue reading “Perang dalam Diri”

Mawar

Jangan dekati aku. Aku memiliki duri yang bisa melukaimu.

***

“Nanti malam kita akan bersilaturahmi ke rumah Nana,” ucap ibu.

Mataku berbinar. “Wah, sudah lama aku tidak bertemu dengannya! Mungkin terakhir sekitar setahun yang lalu saat kita baru mau pindah.”. Ya, keluargaku memang pindah dari Jakarta ke Surabaya karena pekerjaan ayah.

Nana adalah temanku sejak playgroup. Atau bisa dibilang lebih lama dari itu. Ibu kami bersahabat dan pepatah mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ya, mungkin itulah salah satu alasan mengapa aku bersahabat dengan Nana.

Continue reading “Mawar”

Seberkas Sinar di Sela Dedaunan

Kudongakkan kepala ke atas, menyipitkan mata. Seberkas sinar Sang Surya menerobos dedaunan. Memberi kehangatan, penerangan, serta segenggam harapan.

Kusandarkan tubuhku, membiarkan kokohnya batang menyokong semua bebanku, meski hanya sementara.

Kuraba perlahan akar-akarnya yang menancap tanah. Tak henti menjulur ke segala penjuru, mencoba mencengkeram dunia. Mencari makan, menopang yang menjulang.

Segumpal darah berpapasan dengan Sang Akar, meneruskan perjalanan ke batang, hingga sampai di pucuk daun tertinggi. Menggambarkan kehidupan yang sempurna.

Continue reading “Seberkas Sinar di Sela Dedaunan”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑