Search

A Midsummer Night's Dream

Month

May 2016

Perang dalam Diri

3 hari—
3 hari sudah aku terkurung dalam penjara tak berjeruji
3 hari sudah aku mengerutkan kening
Meragukan keputusan hakim yang enigma

“Salahkan saja hakim yang alih-alih selalu adil”
Serunya ketika aku hanya bisa menghela napas
Menyandarkan tengkukku
Yang kemudian tertusuk dinginnya tembok

Partikel-partikel dingin itu kelak menguasai tubuhku
Timbul pertanyaan, “Mengapa tidak kuberontak saja?”
Paling tidak secara diam-diam
Toh, para pahlawan juga menghabiskan waktunya di balik jeruji untuk hal yang baik

Continue reading “Perang dalam Diri”

Mawar

Jangan dekati aku. Aku memiliki duri yang bisa melukaimu.

***

“Nanti malam kita akan bersilaturahmi ke rumah Nana,” ucap ibu.

Mataku berbinar. “Wah, sudah lama aku tidak bertemu dengannya! Mungkin terakhir sekitar setahun yang lalu saat kita baru mau pindah.”. Ya, keluargaku memang pindah dari Jakarta ke Surabaya karena pekerjaan ayah.

Nana adalah temanku sejak playgroup. Atau bisa dibilang lebih lama dari itu. Ibu kami bersahabat dan pepatah mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ya, mungkin itulah salah satu alasan mengapa aku bersahabat dengan Nana.

Continue reading “Mawar”

Seberkas Sinar di Sela Dedaunan

Kudongakkan kepala ke atas, menyipitkan mata. Seberkas sinar Sang Surya menerobos dedaunan. Memberi kehangatan, penerangan, serta segenggam harapan.

Kusandarkan tubuhku, membiarkan kokohnya batang menyokong semua bebanku, meski hanya sementara.

Kuraba perlahan akar-akarnya yang menancap tanah. Tak henti menjulur ke segala penjuru, mencoba mencengkeram dunia. Mencari makan, menopang yang menjulang.

Segumpal darah berpapasan dengan Sang Akar, meneruskan perjalanan ke batang, hingga sampai di pucuk daun tertinggi. Menggambarkan kehidupan yang sempurna.

Continue reading “Seberkas Sinar di Sela Dedaunan”

Edelweis

Sabtu pagi yang cerah. Tampak dua orang anak sedang bermain di halaman rumah. Kedua anak itu bernama Yura dan Annya, siswi kelas empat SD Persatuan Bangsa. Mereka bisa dibilang cukup dekat karena orang tua mereka juga bersahabat dan sekarang mereka juga bertetangga.

“Ayo kita main lagi!” ajak Yura pada Annya.

“Main apalagi?” tanya Annya.

“Petak umpat!” seru Yura sambil menyengir.

“Kamu yang jaga, ya!” seru Yura. Annya mengangguk.

“Satu … dua … tiga …,” Annya mulai menghitung. Tiba-tiba ia memegang kepalanya. “Pusing,” gumamnya pelan.

Continue reading “Edelweis”

Blog at WordPress.com.

Up ↑