Sabtu pagi yang cerah. Tampak dua orang anak sedang bermain di halaman rumah. Kedua anak itu bernama Yura dan Annya, siswi kelas empat SD Persatuan Bangsa. Mereka bisa dibilang cukup dekat karena orang tua mereka juga bersahabat dan sekarang mereka juga bertetangga.

“Ayo kita main lagi!” ajak Yura pada Annya.

“Main apalagi?” tanya Annya.

“Petak umpat!” seru Yura sambil menyengir.

“Kamu yang jaga, ya!” seru Yura. Annya mengangguk.

“Satu … dua … tiga …,” Annya mulai menghitung. Tiba-tiba ia memegang kepalanya. “Pusing,” gumamnya pelan.

“Hihihi … Annya pasti tidak bisa menemukanku disini,” Yura tertawa kecil. Ia bersembunyi di kamar mandi dalam rumahnya. Satu menit … dua menit … tiga menit …. Lima menit sudah Yura bersembunyi di kamar mandi. Annya belum juga menemukanku?, tanyanya dalam hati. Ia memberanikan diri untuk keluar dari kamar mandi. Ah, jangan deh. Pasti dia mau mengerjaiku. Nanti saat aku keluar dia malah mengagetkanku, Yura terus berubah pikiran. Tetapi akhirnya ia keluar juga dari kamar mandi.

Rumah sepi. Kosong. Lampu-lampu dimatikan. Tidak ada satu orangpun yang ada di rumah itu kecuali Yura. Bulu kuduknya langsung berdiri. Ia mencoba mencari mamanya. “Mama …” Yura memanggil-manggil mamanya. “Mama? Mama dimana?” tetapi tidak ada satupun sahutan. Yura memandang keluar jendela. Mencoba membuka pintu rumah. Kriek … ternyata pintu rumah tidak dikunci. Yura pun segera keluar dan tak lupa menutup pintu rumahnya lagi.

“Eh, sebuah surat!” seru Yura ketika melihat ke arah meja yang ada di teras. Terdapat amplop kuning kecil disana. Yura membuka amplop itu dan membaca isi suratnya.

Yura sayang,

Maaf kamu mama tinggal di rumah. Tadi saat kamu bermain dengan Annya, dia mengeluh pusing dan tiba-tiba saja pingsan di halaman rumah kita.

Mata Yura langsung terbelalak. Annya pingsan!? Pantas saja tadi ia tidak menemukanku, kata Yura dalam hati. Ia melanjutkan membaca surat itu.

Ternyata di rumah Annya tidak ada siapa-siapa, jadi mama langsung mengantarnya ke dokter. Kamu jaga rumah, ya. Kunci rumah ada di bawah karpet.

Yura segera memastikan kalau kuncinya ada di bawah karpet dan ia menemukannya. Langsung saja kunci itu ia simpan di saku celananya.

 Hati-hati jika ada orang, pura-pura saja tidak ada orang di rumah. Sekali lagi maaf, ya. Oh iya, mama sudah menyiapkan bubur ayam kesukaanmu di meja makan. Selamat makan!

Salam,

Mama.

Sebenarnya, ini kali pertama bagu Yura ditinggal sendirian di rumah tanpa siapapun. Tetapi dia juga harus belajar menjaga rumah sejak dini agar terbiasa di kemudian hari.

Yura melipat surat dari mamanya dan memasukkan kembali ke dalam amplop kuning. Ia masuk ke rumahnya dan mengunci pintu. Dalam hati, ia terus berdoa agar sahabatnya, Annya tidak kenapa-napa. Karena selama ia bersahabat dengan Annya ia belum pernah melihat Annya pingsan. Kalau sakitpun, Annya selalu menutupinya dengan tersenyum.

***

28 Desember 2027

“Kau sedang apa?” tanya Yura.

“Melipat burung bangau dari kertas origami,” jawab Annya sambil tetap melanjutkan aktifitasnya.

Oh, lihatlah wanita itu. Dulu rambutnya panjang. Sekarang sudah hilang semua. Tetapi, ada satu hal yang tidak pernah hilang dalam hidupnya, senyuman.

“Untuk apa?” tanya Yura lagi.

“Aku berharap agar aku diberi umur panjang,”

“Berapa banyak yang dibutuhkan?”

“Seribu,”

“Benarkah?”

“Aku tidak pernah berbohong padamu, kan,”

“Hm … iya, sih. Sudah berapa banyak yang kau buat?”

“Entah, mungkin sekitar 300 buah,”

“Wah … keren! Oh iya, aku membawakan hadiah untukmu,”

“Hadiah apa?” akhirnya Annya menoleh pada Yura.

“Ini,” Yura memberikan sebuah kaleng dan bunga berwarna putih.

“I-ini … ini …” tangan Annya bergetar menerima hadiah pemberian Yura. Yura tersenyum.

***

Sudah 999, satu lagi menjadikan 1000.

Semoga kau tenang disana, ya.

Biarlah origami itu memudar dan robek seiring permohonan dikabulkan. Ia meletakkan origami bangau yang ke-1000 di sebelah sebuah bunga. Bunga itu berwarna putih. Putih yang melambangkan cinta dan ketulusan. Bunga itu terdapat di dataran tinggi. Melambangkan pengorbanan. Meskipun sudah dipetik, warna dan bentuknya tidak berubah. Itulah alasannya bunga itu disebut sebagai bunga abadi.

Kini origami bangau dan bunga itu dihiasi dengan tetesan air mata. Selamat tinggal.

*****

December 31st 2012 – My Room

Advertisements