Kudongakkan kepala ke atas, menyipitkan mata. Seberkas sinar Sang Surya menerobos dedaunan. Memberi kehangatan, penerangan, serta segenggam harapan.

Kusandarkan tubuhku, membiarkan kokohnya batang menyokong semua bebanku, meski hanya sementara.

Kuraba perlahan akar-akarnya yang menancap tanah. Tak henti menjulur ke segala penjuru, mencoba mencengkeram dunia. Mencari makan, menopang yang menjulang.

Segumpal darah berpapasan dengan Sang Akar, meneruskan perjalanan ke batang, hingga sampai di pucuk daun tertinggi. Menggambarkan kehidupan yang sempurna.

Tangan-tangan nakal sering terlihat mencoba menghancurkan kehidupan yang sempurna itu. Oh, malangnya nasib mereka, hanya bisa iri dan merusak.

Kuhela napas sembari memejamkan mata.

Maaf, aku lupa.

Maaf, aku telah lalai.

Maaf, mata hatiku belum terbuka sepenuhnya, belum bisa melihat betapa besar jasa akar-akar yang tertimpa tanah itu.

Aku tidak akan melupakan akarku, yang mencengkeram erat duniaku.

Aku tidak akan melupakan batangku, yang mengonsolidasi segala tekadku.

Aku tidak akan melupakan dedaunanku, yang rimbun dengan hasrat dan keinginanku.

Kudongakkan kepala ke atas, menyipitkan mata. Seberkas sinar Sang Surya menerobos dedaunan. Memberi kehangatan, penerangan, serta segenggam harapan.

Semoga semua berbuah manis.

 

May 11th 2016 – My Room

Advertisements