Jangan dekati aku. Aku memiliki duri yang bisa melukaimu.

***

“Nanti malam kita akan bersilaturahmi ke rumah Nana,” ucap ibu.

Mataku berbinar. “Wah, sudah lama aku tidak bertemu dengannya! Mungkin terakhir sekitar setahun yang lalu saat kita baru mau pindah.”. Ya, keluargaku memang pindah dari Jakarta ke Surabaya karena pekerjaan ayah.

Nana adalah temanku sejak playgroup. Atau bisa dibilang lebih lama dari itu. Ibu kami bersahabat dan pepatah mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ya, mungkin itulah salah satu alasan mengapa aku bersahabat dengan Nana.

Satu hal yang paling kuingat tentang Nana adalah bekas benturan di pelipis kirinya. Entahlah, aku tak ingat bagaimana asal usul benturan itu. Tetapi dia tidak pernah mau menunjukkannya lagi dan menutupi benturan itu dengan poninya.

***

“Nana …!” seruku berlari menghampirinya. Nana yang baru menyadari kehadiranku melambaikan tangannya.

“Mawar! Sudah lama kita tidak bertemu!” ujarnya sambil tersenyum. Aku senang melihat Nana. Mengamatinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Satu hal yang berubah darinya, kini ia tidak berponi. Sepertinya mulai lebih percaya diri mengenai bekas benturan di pelipisnya itu.

Kami berdua berbincang mengenai berbagai hal. Tentang kehidupan kami masing-masing yang sekarang, dan sebagainya. Sampai tentang pelipis itu …

“Luka ini tak apa-apa. Memang tidak bisa hilang tetapi aku tahu pasti kamu tidak sengaja mendorongku sampai kepalaku terbentur aspal waktu itu,” Nana mengelus-elus pelipisnya. Aku terdiam.

Aku … yang menyebabkan Nana memiliki luka yang tidak bisa hilang itu? Bagaimana aku tidak ingat … Apa yang ada dalam pikiranku ketika aku mendorongnya? Mengapa aku begitu bodoh? ….

“Aku permisi dulu,” Rasanya aku ingin menjauh dari Nana agar aku tidak melukainya lagi. Aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan menumpahkan penyesalanku disana.

Sudah kubilang, jangan pernah dekati aku lagi atau kau akan terluka.

***

 

August 22nd 2013 – My Room

Advertisements